Sabtu, 03 Oktober 2009

Sejarah Promosi Kesehatan

Tugas Mata Kuliah Promosi Kesehatan


Mula-mula Belanda untuk kepentingan mereka sendiri,membentuk jawatan kesehatan tentara (Militair Geneeskundige Diens)pada tahun1808.Itu terjadi pada pemerintahan Gubernur Jendral H.W.Deandels ,pada permulaannya perhatian hanyaditunjukan pada kelompok masyarakat penjajah(Belanda)sendiri beserta anggota tentaranya yang juga meliputi orang pribumi.Sedangkan usaha untuk mempertinggi kesehata rakyat secara keseluruhan baru dinyatakan secara tegas dengan dibentuknya jawatan/Dinas Kesehatan Rakyat tahun 1925,sedangkan pelayanan kesehatan yang mula-mula dilakukan adalah pengobatan dan perawatan(upaya kuratif)melalui RS Tentara.Pada saat itu banyak penyakit timbul karena pola hidup tidak bersih dan tidak sehat,diantaranya yang paling sering terjadi adalah wabah malaria,kolera,sampar,dan cacar.
Dengan adanya wabah kolera,pada tahun 1911 di Batavia dibentuk badan yang diberi nama "Hygien Commissie"yang kegiatannya berupa pemberian vaksinasi,menyediaan air minum,danmenganjurkan memasak air untuk diminum,usaha ini dirintis oleh Dr.W.Th. De Vogel.Pada tahun 1924 oleh pemerintah Belanda dibentuk Dinas Higiene,kegiatan pertamanya berupa pemberantasan cacing tambang di daerah Banten dengan cara mendorong rakyat untuk membuat kakus/jamban sederhana dan mempergunakannya.Lambat laun pemberantasan cacing tambang tumbuh menjadi apa yang dinamakan "Medisch Hygienische propaganda"
Baru pada tahun 1933 dapat dimulai organisasi hygiene tersendiri,dalam bentuk percontohan Dinas Kesehatan Kabupaten di Purwokerto.Dinas ini terpisah dari Dinas kuratif tetapi pelaksanaannya bekerja sama erat,pada tahun1924-1939 Dr.John Lee Hydrick dari Rocckefeller foundation(Amerika)memimpi pemberantasan cacing tambang dengan menitik beratkan pendidikan kesehatan pada masyarakat.Ia meangkat pendidikan kesehatan rakyat dengan mengadakan penelitian operasional tentang lingkup penderita cacing tambang di Banyumas,sebagai pelaksana kegiatan pendidikan kesehatan dalam bidang hygiene dan sanitasi seorang dokter pribumi bernama Dr.Soemedi kemudian mendirikan sekolah juru hygiene di Purwokerto.Usaha ini kemudian dilanjutkan oleh Dr.R.Mochtar yang kemudian menjabat sebagai Kepala Bagian Pendidikan Kesehatan Rakyat(Medisch Hygienische Propaganda Dienst).

Dengan berkembangnya waktu dan keadaan, sekitar akhir tahun 1980-an dan awal 1990-an lahir suatu konsep pemikiran tentang profesionalisme tenaga birokrasi pemerintahan melalui jabatan fungsional. Artinya untuk meningkatkan pelayanan publik, struktur yang ada sekarang sudah tidak memadai lagi dan harus didukung oleh tenaga fungsional yang bermakna professional yang menguasai ilmu dan teknologi profesi yang bersangkutan dan terampil melaksanakannya.
Untuk mengembangkan program PKM jelas diperlukan jabatan fungsional PKM disamping tentunya tenaga jabatan struktural yang sudah ada di berbagai tingkatan administratif. Pada waktu itu di lingkungan kesehatan sendiri baru dibentuk beberapa tenaga jabatan fungsional seperti dokter, dokter gigi dan perawat. Lalu diikuti dengan tenaga professional yang bersifat umum seperti penata komputer, pustakawan, arsiparis, dll. Sedangkan di lingkungan pertanian misalnya dibentuk penyuluh pertanian, penyuluh perikanan, kehutanan dan lain-lain.

Pada tahun 2004 oleh Menteri Kesehatan (Dr. Achmad Sujudi) ditetapkanlah Sistem Kesehatan Nasional (SKN) yang baru, sebagai pengganti SKN lama (tahun 1982). SKN baru ini dimaksudkan antara lain untuk mempertegas makna pembangunan kesehatan dalam rangka pemenuhan hak asasi manusia dan memperjelas penyelenggaraan pembangunan kesehatan sesuai visi dan misinya.
Disebutkan bahwa SKN adalah suatu tatanan yang menghimpun berbagai upaya Bangsa Indonesia secara terpadu dan saling mendukung, guna menjamin derajat kesehatan yang setinggi-tingginya sebagai perwujudan kesejahteraan umum seperti dimaksud dalam Pembukaan UUD 1945. Sedangkan pada hakekatnya SKN adalah juga merupakan wujud dan sekaligus metode penyelenggaraan pembangunan kesehatan, yang memadukan berbagai upaya Bangsa Indonesia dalam satu derap langkah guna menjamin tujuan pembangunan kesehatan. Sedangkan tujuannya adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan oleh semua potensi bangsa, baik masyarakat, swasta maupun pemerintah secara sinergis, berhasil guna dan berdaya guna, sehingga tercapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
Apa kaitannya dengan Promosi Kesehatan? Dalam SKN tersebut disebutkan adanya 7 prinsip dasar. Prinsip ke 4 adalah Prinsip Pemberdayaan dan Kemandirian Masyarakat, dan prinsip ke 5 adalah Prinsip Kemitraan. Tanpa mengurangi arti upaya kesehatan lainnya, kedua prinsip tersebut sangat erat kaitannya dengan ruang lingkup upaya promosi kesehatan. Selain itu SKN ini terdiri 6 subsistem, salah satunya adalah; Subsistem Pemberdayaan Masyarakat. Disebutkan bahwa Subsistem pemberdayaan masyarakat adalah tatanan yang menghimpun berbagai upaya perorangan, kelompok dan masyarakat umum di bidang kesehatan secara terpadu dan saling mendukung guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Sedangkan tujuannya adalah terselenggaranya upaya pelayanan, advokasi dan pengawasan sosial oleh perorangan, kelompok dan masyarakat di bidang kesehatan dsn seterusnya. Subsistem Pemberdayaan Masyarakat dengan segala uraiannya itu tentu saja merupakan ranah (domein) Promosi Kesehatan. Organisasi internasional yang menangani pendidikan dan promosi kesehatan disebut International Union for Health Promotion and Education (IUHPE) yang pengurusnya berkedudukan di Paris

Rujukan
Pusat Promosi Kesehatan Dep.Kes RI .
(http//www.promosikesehatan.com)

Banjarmasin,3 Oktober 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar